Letjen Edy Rahmayadi dan Pilgub Sumut 2018

0
76

Wajah tegas namun penuh kesahajaan. Itulah yang tergambar dari seorang Letkol Inf. Edy Rahmayadi tahun 2002 silam ketika menjabat sebagai Komandan Kodim 0316 Batam. Di Markas Komando Distrik Militer Batam Ia tidak berhenti mengecek setiap sudut mulai kebersihan WC hingga halaman sekitar agar tetap rapi, bersih dan hijau.

Sekarang, di tahun 2017, telah dua tahun, Pak Edy yang akrab disapa oleh rekan pers. Duduk di salah satu posisi puncak karir militer Angkatan Darat. Dengan Pangkat tinggi Letnan Jenderal (bintang tiga) Jabatan Pangkostrad. Dirinya telah teruji dalam memimpin ratusan ribu Prajurit.

Secara pribadi profilnya kadang tegas namun seringkali membuat rekan-rekan pers dibuat ketawa. Ia hobby dialog dengan para wartawan dan tidak melulu pidato. Orasinya tentang negara dan pertahanan di hadapan awak pers. Hal lain, orangnya sangat terbuka untuk hal-hal yang perlu di-diskusikan dan menerima segala masukan yang sesuai porsinya dan idealisme yang secara umum dapat diterima logika. Tidak kaku dan biasa berbagi dalam pandangan tentang masa depan negara ke depan atau hal-hal menyangkut kemajuan ekonomi daerah, tidak bermasa bodoh dan peduli pada masyarakat terutama kelompok muda. Mungkin hal ini jadi pertimbangan ia lebih mudah akses pada pemilik suara dan menjadi pucuk pimpinan PSSI serta pimpinan TNI menempatkan dirinya pada Direktur Pemantapan Strategis Bela Negara di Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas) dengan Pangkat Brigadir Jenderal TNI. Posisi ini rasanya tidak bisa diduduki oleh sembarang orang tetapi personal khusus yang memiliki kemampuan berpikir jauh dan mantap.

Sekali waktu bertemu di Markas Kostrad Jalan Medan Merdeka Timur seusai Sholat Dhuhur di Masjid Kostrad. Masih menyapa dengan hangat pada rekan pers dari Ex Reporter Elshinta Batam. Tidak lupa menyapa bagaimana kabar dan lain-lain. Lebih jauh saya menyampaikan keluhan tentang adanya kelompok yang telah terang melakukan kerjasama dengan asing guna mengeruk keuntungan kelompok dan pribadi di Indonesia dengan cara membuat jaringan kelompok di Indonesia.

Harapan saya figur seperti pak Edy layak memimpin TNI dan ke depan dapat menjadi pemimpin Nasional. Agak heran juga mengapa tiba-tiba memilih jalan pensiun dini dan beralih ke Politik Pilkada di Sumatera Utara 2018.

Sebenarnya Jabatan Gubernur adalah sebuah jabatan penting di Republik ini. Secara hierarki pemimpin level 2 setelah Presiden RI. Sistem pembagian kekuasaan memberikan kewenangan cukup pada Gubernur untuk menjadi penggerak pembangunan wilayah Propinsi. Bila mengacu pada tugas dan kerja seorang Gubernur tentu cukup lumayan berat sebab bagaimana memacu dan mengkordinir perencanaan dan pelaksanaan pembangunan daerah dan mengkomunikasikan dengan Pemerintah Pusat. Tapi bagi Edy Rahmayadi tentu tidak terlalu sulit sebab sudah terbiasa kerja birokrat dan dirinya memiliki kebiasaan yang baik untuk tidak berhenti belajar. Apalagi wilayah Sumatera adalah bagian yang tidak terpisahkan semenjak karir militernya.

Persoalan-persoalan daerah umumnya hampir sama di Indonesia. Bahwa selain masalah keamanan sebenarnya masalah krusial dan telah menjadi kristal adalah persoalan bagaimana rakyat yang ber pendapatan rendah dapat dinaikkan menjadi masyarakat dengan pendapatan menengah. Bagaimana angka pengangguran dan mengurangi ketimpangan-ketimpangan secara ekonomis. Tetapi khusus Sumatera Utara dari sisi keamanan dan Ekonomi boleh menjadi priority tetapi tidak meninggalkan fokus-fokus lain setelah lama ditinggal oleh Gubernur sebelum yang telah masuk radar KPK. Bahwa niat pemimpin daerahnya lalu peduli dan terbuka maka daerah tersebut akan cepat meraih sukses pembangunan ekonomi. Berbeda di daerah timur Indonesia tingkat pendapatan rendah di bandingkan Sumatera Utara namun Sumber Daya alam sangat luas dan melimpah. Barangkali pemimpin lokal kurang kreatif dalam bidang ekonomi.

Bahwa pembangunan dan Penduduk adalah dua keping mata uang. Bahwa pembangunan hakikinya adalah personal priority. Pembangunan bertujuan membangun tiga hal yaitu mengurangi Ketimpangan, Pengangguran dan Kemiskinan. Ini kerja bukan asal-asalan dibutuhkan konsep yang matang dan mumpuni agar tidak kehilangan asas manfaat kedepan. Sebenarnya tidak sulit sebab Ekonomi sama dengan arus listrik yang memiliki jaringan tersambung atas posisi negatif dan positif. Bila kerja politik dan ekonomi dibuat menjadi fleksibel tetapi fokus sasaran maka bisa kelihatan hasilnya ke depan.

Haruna Rahman, SH, MH penulis dan Advokat di Jakarta dan Makassar. Email ; harunlawyer@gmail.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here