Pesan Buyung Nasution kepada Advokat Indonesia

0
40

Prof. Dr. (lur) H. Adnan Buyung Nasution, SH (Bang Buyung) mengembuskan napas terakhirnya di usia 81 tahun setelah dirawat di Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI), Jakarta Selatan. Pengacara tiga zaman ini sebagai pelopor lahirnya Undang-undang No. 18/2003 tentang Advokat.

Kenangan dan pesan dan kesan Abang, di Hotel Bidakara Tahun 2009, dalam acara Penyumpahan dan pelantikan ke-1 Anggota Kongres Advokat Indonesia. Bang Buyung terharu dan menangis karena bahagia saat didaulat memberikan pidato sebagai kedudukannya Honorarium of chairman KAI organisasi pemersatu yang didirikan oleh kelompok organisasi advokat.

Penulis yang hadir dalam acara itu, ikut terharu dan menitikkan airmata membayangkan perjalanan Advokat dan organisasi Advokat kita dan seluruh dinamika organisasi Advokat Indonesia dimana saksi pelaku sejarah Advokat yang berbicara di hadapan kita Advokat.

Bahagianya Karena perjuangan menyatukan puluhan tahun Organisasi Advokat plus perangkat sistem Undang-undang Advokat tahun 2003 telah berhasil. Perjuangan ini memang bukan mudah sebab tabiat Advokat Indonesia dalam ke organisasian sulitnya jadi satu walau dalam lingkup pergaulan sesama advokat sangat baik dan bersahabat yang tidak membedakan suku dan agama. Mungkin sulit satu karena semua ingin jadi Ketua dan tidak ada yang mau jadi anggota. Bila di maknai sebagai kaum intelektual maka ini positif sebab menunjukkan semangat kepemimpinan dan kecerdasan Advokat seperti Advokat Amerika. Sehingga disini organisasi Advokat sulit bersatu.

Memaknai Sejarah organisasi Advokat Indonesia

Dalam konstitusi RI dan Undang-undang Advokat seyogyanya organisasi Advokat wajib menjadi satu. Sejarahnya juga pernah jadi satu. Peradin di era orde lama, Ikadin era orde Baru dan Peradi lalu Kai era reformasi. Dalam era- era itu Advokat terpecah melahirkan beberapa organisasi advokat kelompok lahir AAI, Hapi, Iphi, Apsi, dll. Saking banyaknya organisasi Advokat sulit bagi kita menghapalnya.

Perpecahan ini sebenarnya disebabkan oleh kepentingan pribadi Advokat bukan perbedaan prinsip. Tidak seperti dalam organisasi partai perbedaannya dalam kelas sosial ideologi politik. Organisasi advokat lebih cenderung pertarungan pribadi yang berebut jadi ketua.

Bahwa pesan bang Buyung yang dalam Undang-undang Advokat tentu harus dimaknai sebagai eksistensi Advokat dulu, kini dan ke depan. Harapan bersatu tidak boleh lentur dan luntur sebab menyangkut Organisasi Advokat dan eksistensi Advokat dalam dinamika kehidupan bernegara. Bahwa organisasi advokat adalah lembaga negara sebagai payung penegak hukum advokat yang mewakili kepentingan masyarakat terhadap hak hukum dan status hak hukum politik dan sosial dalam masyarakat.

Bila dimaknai sebagai penegak hukum Advokat yang mewakili kepentingan rakyat dan organisasi advokat mewakili kepentingan negara tentu perpecahan organisasi advokat tidak menguntungkan Advokat, organisasi, masyarakat dan Negara. Sekarang ini Peradi dan KAI serta organ lainnya menunjukkan perilaku organisasi yang telah keluar dari rel Konstitusi dan Undang-undang Advokat sesuai perintahnya bahwa organisasi Advokat dalam keorganisasiaan harus satu. Tujuannya agar Advokat tidak hanya sebagai penegak hukum tetapi lebih jauh menjadi motor penggerak perubahan dalam masyarakat dan demokrasi. Advokat di perintah untuk mandiri, bebas, bersatu dan jujur dalam melaksanakan tugasnya sebagai Advokat.

Advokat pejuang dalam bahasa bang Buyung dapat dimaknai sebagai agen perubahan sosial demokrasi dalam masyarakat. Untuk itu organisasi advokat idealnya satu guna melahirkan advokat-advokat baru yang berkualitas nasional dan internasional. Advokat harus siap dengan perubahan, perbedaan, demokrasi, menjadi panutan dalam berpikir dan bertindak dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Lewat wadah tunggal organisasi advokat dapat membimbing Advokat muda agar kelak menjadi pejuang ikhlas dalam penegakan hukum di negara kita dan mungkin saja melahirkan calon Pemimpin Bangsa seperti negara-negara maju yang Presidennya dari Kelas Advokat.

Harapan ini yang dimaksud dalam tangis seorang advokat senior Indonesia yang telah meninggalkan kita dengan contoh yang baik bagi rekan Advokat Indonesia.

Organisasi Advokat kini dan kedepan

Kini jalan menjadi satu wadah tunggal masih terbuka sangat lebar. Organisasi Advokat yang sekarang lagi dan yang paling berpengaruh dalam organisasi advokat Indonesia adalah Peradi, KAI dan Peradin. Bila ketiga organisasi advokat ini bersatu maka jalan menuju wadah tunggal dapat menjadi satu. Satu wadah, pendidikan profesi Advokat, ujian Advokat, Magang dan pelantikan Advokat jadi satu. Pengaduan masyarakat bagi korban malpraktik Advokat juga satu dalam bentuk dewan kehormatan Advokat.

Dalam rekonsiliasi nanti seharusnya pengikatannya dalam bentuk kesepakatan sertifikasi Advokat dalam bekerja baik skala nasional maupun internasional. Sertifikasi berupa Kartu keanggotaan dan diketahui secara nasional. Sehingga tidak ada lagi kartu Advokat berwarna warna seperti sekarang yang dapat digunakan dalam beracara. Lembaga negara lain harus patuh dengan aturan satu sebagai komitmen rekonsiliasi Advokat dalam wadah tunggal organisasi. Bila sudah sepakat jadi satu tentu tidak ada lagi alasan muncul organisasi advokat tandingan.

Kepemimpinan Organisasi Advokat mesti Kolektif kolegial sebagai pemersatu

Sehingga posisi senior dan ketua masing-masing perwakilan Organisasi Advokat terakomodir, tidak egois dan mau jadi penguasa tunggal sebagaimana kepemimpinan sebelumnya sehingga masa depan Advokat dan organisasi Advokat dapat menjadi cerah.

Perbedaan Agama dan Suku toh telah di akomodir dalam perwakilan komisioner sebagaimana layaknya dalam organisasi yang solid di Indonesia. Mungkin lebih dekatnya bahwa suara keterwakilan kelompok Advokat dapat terakomodir dalam keterwakilan Dewan Pengurus Cabang setingkat Kabupaten/Kota sehingga tidak dapat dimanipulasi sedemikian rupa oleh oknum yang hanya ingin memperkaya diri dan keluarga dari organisasi advokat.

Bila menyatukan suara dalam pemilihan musyawarah Advokat sebanyak 32.000 Advokat Indonesia agak sulit. DPC yng mewakili dalam bentuk mandat Anggota di DPC tersebut. Sehingga terverikasi dalam keterwakilan. Tetapi semua Advokat Bila tidak ada niat baik maka mustahil jadi satu dalam musyawarah keterwakilan.

Membangun organisasi advokat menjadi satu wadah tunggal memang harus dengan semangat, jujur dan pantang menyerah dengan terus melakukan sosialisasi dan rekonsiliasi sesama rekan Advokat Indonesia agar melakukan konsiliasi kembali sebagaimana cita-cita dan pesan para senior advokat yang telah lebih dulu meninggalkan kita untuk untuk bersatu dalam wadah tunggal organisasi advokat terlepas apapun itu nama organisasinya.

Kesimpulan

Mungkin beberapa langkah nyata yang harus dilakukan untuk membangun kembali organisasi advokat yang telah terpecah belah diantaranya :

Membangun kesadaran dan sosialisasi sesama rekan advokat untuk kembali menjadi satu dalam bingkai wadah tunggal organisasi advokat demi menjaga Wibawa dan martabat advokat Indonesia.
Mengadakan lobie-lobie kepada para petinggi dan para senior advokat di Indonesia agar memfasilitasi terbentuknya rekonsiliasi advokat Indonesia yang kemudian membentuk kepanitiaan untuk mengadakan Musyawarah Nasional advokat Indonesia yang waktu dan kegiatannya ditentukan oleh kepanitiaan dari masing-masing perwakilan kelompok organisasi advokat itu sendiri.
Membangun mekanisme dan sistem pemilihan perwakilan setiap daerah DPC dan membangun mekanisme proses pemilihan pimpinan komisioner yang kolektif kolegial organisasi advokat Indonesia.
Bahwa Musyawarah Nasional selain memilih dan membentuk kepemimpinan komisioner organisasi advokat nasional pula membangun sistem organisasi advokat yang solid.
*Penulis Haruna Rahman, SH, MH Advokat di Jakarta Mobile Phone : 08118487399*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here